ANAKLAUT

Friday, 3 January 2014

KH Nawawi Marfu ayah mertua KH Ahmad Syarazi wafat 28.12.13

Pesan KH Nawawi Marfu kepada Santri-santrinya
Amalkan Doa agar Selalu Sehat Supaya Mudah Ibadah
Senin, 30 Desember 2013 - 00:34:51
|
Utama
|
Dibaca : 206 Kali


                                

 KH Ahmad Syarazi  seminggu selepas pulang dari kunjungan siratulrahmi ke rumah keluarga di Malaysia ayah mentuanya  wafat di Martapura.


Keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah khususnya dan masyarakat Kota Martapura umumnya, benar-benar kehilangan seorang tokoh ulama kharismatik. Namun ada satu pesan yang diingat betul oleh santri beliau.

Wafatnya Tuan Guru Besar KH Nawawi Marfu di usia 95 tahun, Sabtu (28/12) pukul 07.00 pagi, membuat bumi Serambi Mekkah kehilangan seorang rujukan dalam bidang Ilmu Fiqih dan Ilmu Alquran, karena beliau adalah seorang yang hafiz Alquran, Fuqaha dan Ahlullah (Ahli Alquran).
Apalagi Ulama yang dikenal wara dan tawadhu ini, merupakan salah seorang dari Tiga Serangkai pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Martapura, di mana dua Tuan Guru Besar pendiri lainnya, yakni KH Hasyim Mochtar El Husaini (Muhadditsin/Ahli Hadits) dan KH Nasrun Thohir (Ahlullah/Ahli Alquran) telah wafat lebih dulu.
Semasa hayat, Tuan Guru KH Nawawi Marfu telah mengabdikan diri mengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Martapura. Sedangkan di rumah beliau kerap diminta untuk memberikan pengesahan/ijazah hafal Alquran oleh para ulama maupun para tahfizul Quran dari berbagai lulusan pondok pesantren.
Keseharian beliau sangatlah kasih sayang kepada sesama, tidak terkecuali kepada orang tua, pemuda maupun anak kecil. Bahkan beliau hampir-hampir tidak pernah menolak siapa pun yang datang berhajat untuk keperluan berbagai kebaikan apa pun.
Perwakilan Keluarga Besar sekaligus alumni Pondok Pesantren Hidayatullah, Fauzan Asniah, SHI menuturkan, wafatnya Tuan Guru Besar KH Nawawi Marfu sudah tentu membuat keluarga besar Ponpes Hidayatullah sangat berduka.
"Beliau (KH Nawawi Marfu) adalah salah satu dari Tiga Serangkai pendiri Ponpes Hidayatullah. Sepeninggal beliau sekarang, itu berarti Tiga Serangkai Pendiri Ponpes Hidayatullah sudah tiada. Bagi kami sangat sulit mencari pengganti sosok guru-guru kami yang mulia itu. Guru-guru kami, almarhum KH Hasyim Mochtar, KH Nasrun Thohir dan KH Nawawi Marfu adalah tiga tokoh ulama yang sangat wara, tawadhu serta mewakili keahlian pada bidang masing-masing," ungkap Fauzan.
Satu hal yang tak pernah dilupakan dari sosok KH Nawawi Marfu, menurut Fauzan, beliau selalu memberikan nasihat-nasihat yang luar biasa. Salah satu nasihat atau pesan beliau yang selalu disampaikan kepada para santri maupun siapa saja yang berkesempatan silaturrahmi adalah beliau mengajarkan doa untuk kesehatan lahir dan bathin.
"Doa yang selalu beliau ajarkan adalah Allahumma inna nasalukal ‘afwa wal ‘afiyah, wal mu’afaatad daaimah, fiddiini waddunya wal akhirah. Doa tersebut doa memohon kesehatan badan lahir dan bathin kepada Allah Subhanahuwa Ta'ala. Karena menurut beliau, jika badan sehat lahir dan bathin, maka ibadah pun mudah dilaksanakan," ungkap Fauzan menirukan pesan dari KH Nawawi Marfu.
Dan sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin kemarin, sebelum meninggal di usia 95 tahun, KH Nawawi sebelumnya tidak pernah mengalami sakit parah. Sampai menjelang subuh pada hari wafatnya, KH Nawawi Marfu pun sempat mengambil wudhu untuk melaksanakan salat subuh.  Namun saat itulah badannya terasa lemah dan selanjutnya oleh anak-anaknya langsung dibawa ke kamar tidurnya untuk dibaringkan. “Saat dibaringkan tersebut beliau sempat batuk dan minum air, selanjutnya perlahan mulai tidak ada lagi,” ujar puteranya H Basirullah mengungkapkan.
Sementara itu, ungkapan duka cita mendalam juga datang dari Bupati Banjar yang juga sebagai Sultan Banjar, H Khairul Saleh. "Kami juga sangat kehilangan dengan wafatnya Guru Tuha, Tuan Guru Besar kita KH Nawawi Marfu. Beliau adalah sosok Tuan Guru yang sangat wara dan sangat tawadhu. Karenanya, Kesultanan Banjar telah memberikan gelar kepada beliau sebagai Tuan Guru Besar," ungkap Khairul Saleh.
Khairul Saleh juga menyebutkan, sangat banyak teladan yang bisa dipetik dari sosok keulamaan KH Nawawi Marfu. "Selain memiliki ilmu agama yang sangat mendalam, beliau juga memiliki sifat yang sangat pemurah, lemah lembut dan kasih sayang. Jadi, kita semua memang sudah sepatutnya merasa kehilangan. Semoga beliau mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah subhanahu wata'ala. Dan mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan dari Allah," pungkasnya.(tia/yn/bin)

Wafat Setelah Mengambil Wudu
Pendiri Pesantren Hidayatullah KH Akhmad Nawawi M
Minggu, 29 Desember 2013 - 00:00:07
|
Utama
|
Dibaca : 403 Kali

PENUH KEHARUAN – Jenazah KH Akhmad Nawawi Marfu’ diantarkan keluarga dan ribuan pelayat yang sebagian besar merupakan murid-murid beliau.
MARTAPURA – Ribuan pelayat dari berbagai penjuru Kabupaten Banjar berdatangan ke jalan Sasaran Kelurahan Keraton Martapura Kabupaten Banjar. Mereka belasungkawa atas meninggalnya pendiri pesantren Hidayatullah KH Akhmad Nawawi Marfu’ pada Sabtu pagi (28/12) sekitar pukul 07.00 Wita.
KH Nawawi meninggal pada 95 tahun dan sebelumnya tidak pernah mengalami sakit parah. Beliau meninggal saat akan melaksanakan salat subuh di kediamannya.
Menurut keterangan pihak keluarga, KH Nawawi meninggal setelah mengambil wudhu saat akan melaksanakan salat subuh, selanjutnya saat berada di kamar mandi, badannya langsung terasa lemah dan selanjutnya oleh anak-anaknya langsung dibawa ke kamar tidurnya untuk dibaringkan. “Saat dibaringkan tersebut beliau sempat batuk dan minum air, selanjutnya perlahan mulai tidak ada lagi,” ujar anaknya H Basirullah mengungkapkan.
Setelah mengetahui ulama tersebut meninggal satu persatu pihak keluarga dan murid beliau berdatangan dari pagi sampai siang hari. Bahkan rumah beliau juga tidak cukup untuk menampung pelayat yang mau mensalatkan beliau. Selanjutnya dipilih musala yang tepat berada di depan rumahnya untuk menggelar salat fardhu kifayah.
Sebagian besar keluarga merasa terkejut karena KH Akhmad Nawawi meninggal tiba-tiba padahal sehari sebelumnya masih terlihat bugar dan berbicara dengan keluarga-keluarga yang berkunjung ke rumah.
Setelah disalatkan, anak-anak KH Akhmad Nawawi sepakat mengebumikan orang tuanya di komplek Aklah Mangun Jaya Keraton, tepat saat azan Ashar. Dan saat pemakaman juga diikuti ratusan bahkan ribuan keluarga dan murid-murid beliau. “Sebelumnya memang kami tidak mendapatkan firasat apa-apa, karena beliau tidak sakit sebelumnya. Sehingga kepergian beliau ini membuat kami terkejut,” ujarnya H Basir.
Meninggal Setelah Melepas Istri Umrah
Meninggalnya KH Ahkmad Nawawi Marfu’ selain membuat banyak orang terkejut dan bersedih, ternyata sang istri Hj Jubaidah juga sedang tidak berada di Martapura karena baru berangkat umrah dua hari yang lalu. “Sebelumnya beliau melepaskan istrinya untuk berangkat umrah ke tanah suci sehingga ibu Hj Jubaidah tidak bisa bertemu beliau disaat terakhir,” ujar menantunya KH Ahmad Syairazi.
Memang sebelum keberangkatan istrinya ke tanah suci beliau memang terlihat agak berat melepaskan sang istri, karena selama seminggu sebelum berangkat umroh KH Akhmad Nawawi ingin selalu dekat sang istri. Bahkan di malam terakhir sebelum keberangkatan beliau memegang tangan istrinya saat tidur.
Puluhan Tahun Menuntut Ilmu di Mekkah
KH Ahmad Nawawi Marfu semasa mudanya giat menuntut dan belajar ilmu agama Islam sampai kepergiannya ke Mekkah selama puluhan tahun. Setelah memiliki bekal ilmu agama yang didapatkan dari guru-guru besar di Mekkah, selanjutnya beliau pulang ke Tanah Air.
Kemudian setelah beberapa tahun di Martapura bersama dengan KH Hasyim Moukhtar, KH M NashrunThohir, KH Akmad Nawawi Marfu’ mendirikan pesantren Hidayatullah pada tanggal 1 Muharram 1370 H/ 17 Juli 1950 M.
Dari ketiga pendiri pesantren tersebut KH Akhmad Nawawi Marfu’ adalah orang yang paling terakhir tutup usia setelah dua sahabatnya lebih dulu tutup usia.
Saat keberangkatan beliau ke Mekkah untuk menuntut ilmu, jumlahnya ada 10 orang dan semuanya juga sudah terlebih dulu meninggal dunia. Dan KH Akhmad Nawawi juga orang yang paling akhir saat meninggal dunia.
Diceritakan Pimpinan Umum Pesantren Hidayatullah H Saifullah Nashroun, rekan beliau yang berangkat ke Mekkah saat itu untuk menuntut ilmu diantaranya adalah Guru Seman Matau atau Guru Padang, Seman Jalil, Nashroun Thohier, Hasim Muchtar, Atto, Zamalluddin dan Abdul Rasyid. “Saya tidak ingat nama keseluruhan siapa saja yang berangkat bersama beliau bersama siapa saja waktu itu karena sudah lama sekali,” ungkapnya. (ins/yn/ram)
Istri Almarhum KH Nawawi Marfu’ Menyusul
Meninggal Dunia di Madinah
Rabu, 1 Januari 2014 - 01:04:53
|
Utama
|
Dibaca : 172 Kali
MARTAPURA - Hanya berselang tiga hari setelah meninggalnya Tuan Guru KH Ahmad Nawawi Marfu’,  istri beliau Hj Jubaidah (85) juga meninggal dunia di Madinah saat melakukan ibadah Arbain. Hj Jubaidah meninggal sekitar pukul 08.30 waktu Madinah atau pukul 13.30 Wita, Selasa (31/12).
Kabar meninggalnya Hj Jubaidah tersebut dibenarkan oleh anaknya H Basirullah dan menantunya KH Ahmad Syairazi. Menurut mereka, kabar meninggalnya ibu mereka tersebut diberitahukan oleh cucunya Nur Laila Jum'atiah yang ikut mendamping berangkat untuk melaksanakan umroh.
"Kami juga sangat terkejut ketika mendengar kabar itu dan kami juga sudah mengiklhaskan beliau. Sedangkan untuk pemakaman biar saja dilakukan di Madinah, itu juga sudah kesepakatan keluarga," ujar H Basirullah.
Istri pendiri pesantren Hidayatullah tersebut meninggal saat hari kelima di Madinah, dan informasi dari pihak keluarga saat sampai disana juga sudah mengalami sakit.
"Beliau selama ini memang menderita penyakit maag saja, namun itu sudah agak parah. Saat di rumah beliau juga tidak bisa terkena angin, apalagi selama di pesawat serta disana dalam ruangan berpendingin, mungkin saja fisik beliau sudah tidak kuat menahan ditambah lagi saat ini disana sedang musim dingin," lanjutnya
Sementara itu, di rumah duka pihak keluarga baru melaksanakan acara tahlilan tiga hari meninggalnya KH ahmad Nawawi Marfu, setelah mendengar kabar tersebut pembacaan doa untuk almarhumah kembali di lakukan. Sampai pukul 22.00 WITA, banyak pelayat yang datang silih berganti dan memenuhi rumah yang berada di jalan sasaran Keraton tersebut.  (ins/yn/bin)