ANAKLAUT

Sunday, 11 November 2012

“MAWARIK TUNGGAL...”




JUMAT, 08 JUNI 2012

Esai: "Mawarik Tunggal..."


“MAWARIK TUNGGAL...”


Y.S. Agus Suseno


            Percayakah Anda, bahwa urang kampung dan urang bahari (bahari dalam arti “zaman dulu”, bukan dalam pengertian maritim) lebih arif dan bijaksana daripada orang kota atawa urang wayahini? Orang kota (yang biasanya juga berasal dari kampung) umumnya identik dengan segala sesuatu yang serba “modern” atau, malahan, “postmodern” (entah makhluk apa itu): kalangan intelektual dan cendekiawan, orang kantoran dan profesional, punya mobilitas tinggi, berwawasan “global”, mengikuti “trend”, “gaul”, memiliki akses tak terbatas dalam teknologi telekomunikasi dan informasi, moda transportasi, hiburan, kuliner dan seterusnya.
            Urang kampung (kalau kelak tidak pindah ke kota) umumnya identik dengan segala sesuatu yang serba “tradisional” dan, dengan sendirinya, “kampungan”: tinggal di desa terpencil, hidup dari bertani, berkebun atau menjadi nelayan, tidak berpendidikan (malahan, mungkin, buta huruf), tidak paham teknologi modern (tidak memiliki laptop, apalagi menjinjingnya kesana-kemari, seperti kaum snob). Bisa ditambahkan, urang kampung itu bila berbahasa Indonesia bajuju[1], tidak sefasih orang kota.
            Mau contoh dan bukti, bahwa urang kampung dan urang bahari lebih arif dan bijaksana daripada orang kota atawa urang wayahini? Dalam tradisi lisan, kearifan lokal masyarakat tradisional itu dituturkan (dan diturunkan) dari generasi ke generasi, melalui pepatah, peribahasa, ungkapan, petatah-petitih, tamsil, ibarat, yang mengandung nilai-nilai etik; umumnya bersifat instruktif, imperatif maupun preventif, dengan tujuan edukatif.  
            Untuk perilaku dan sifat orang yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain (selalu merusak tatanan, kerukunan dan persatuan), tergambar dalam ungkapanmawarik tunggal: ditinggal manawaki, dibawa malinggang ka jukung[2]. Dalam versi lain (dengan makna yang sama): dibawa malinggang ka jukung, ditinggal maningkalung.
            Ungkapan itu mengenai seseorang yang selalu tidak puas, suka mencari-cari kesalahan, kelemahan atau kekurangan orang lain, suka membuat onar (tidak mesti secara fisik), walaupun sudah diberi tempat, peran, jabatan dan kedudukan terhormat.
            Jika komunitasnya tengah membangun wadah, atau sedang mengadakanaruh (kenduri, pesta, selamatan; boleh diperluas dengan perhelatan, festival, kongres), kalau tidak diikutsertakan dia akan kasak-kusuk, menyebar isu, mencaci maki dan, bila perlu, menebarkan fitnah. Sebaliknya, kalau diikutsertakan dia akan melakukan hal-hal yang dapat merusak wadah, gawi atau aruh itu dengan menjelek-jelekkannya (atau memburuk-burukkan pekerjaan yang lain), padahal nota bene dia juga salah seorang ampun gawi.
            Bagi urang Banjar kebanyakan, orang yang mawarik tunggal itu ngalih diagungakan[3]. Baginya, orang lain selalu salah, hanya dialah yang benar. Baginya, seharusnya aruh itu dikerjakan begini, bukan begitu, dan seterusnya; sambil memamerkan konsep yang maanduh-anduh. Padahal, kalau dia sendiri yang mengerjakannya, belum tentu bisa.
            Yang menjengkelkan, ketika urang takumpulan dan berunding (bacucuk buku) menjelang aruh, saat semua orang dimintai saran dan masukan, mengkompromikan ide dan gagasan (demi kepentingan dan tujuan bersama), dia diam saja, tak bersuara, nangkaya karak dikuwahi banyu[4].
            Celakanya, di saat (atau setelah) baaruhan, tiba-tiba dia mawada, manyambati, mencela: kenapa dikerjakan begitu, tidak begini? Kenapa nang ampun gawi (yang punya hajat) tidak begini-begini, tapi begitu-begitu? Dan seterusnya.
            Nah, pawayanggungan (seniman wayang gong) punya ungkapan khusus untuk perilaku semacam itu: mangguyang tungkat, kana kapala[5]. Ungkapan itu diambil dari pengalaman pawayanggungan sendiri dalam pertunjukan. Dalam sebuah adegan, manakala Rahwana (atau Dasamuka) muncul sambil menari  (baigal), terkadang dia memutar-mutar “tongkat kebesaran”-nya. Kalau tidak hati-hati, putaran tongkat itu bisa memukul kepalanya sendiri. Dalam pepatah Melayu klasik: menepuk air di dulang, terpercik wajah sendiri.
            Orang yang memiliki watak, karakter dan kepribadian mawarik tunggal sulit berkomunikasi dan menjalin hubungan jangka panjang dengan orang lain, di manapun dia berada, karena sifatnya yang  piragah, paiyanya, pina musti. Dia cenderung cari selamat, penjilat, avonturir, manimpakul, mambatang timbul. Dalam bahasa awam: kada kawa bamasyarakat (tidak bisa bermasyarakat).
            Andai jadi pemimpin (di manapun: institusi, lembaga, organisasi, formal maupun informal), dia haus publisitas, suka pujian (ambungan), otoriter, antikritik, tak bisa dibantah, tidak demokratis. Egonya menggelembung. Siang malam dia bercermin, mengagumi wajahnya sendiri yang dirasa paling sempurna (narcisus). Tak pernah terbayangkan baginya untuk bersikap barandah pada kancur[6] .  
            Siapa yang dapat “menaklukkan” warik tunggal itu? Boleh jadi warik tunggal lain, yang lebih besar, lebih berpengaruh, lebih berwibawa dan lebih panjang “taring”-nya. Hanya itulah yang membuatnya alah tadah. Di hadapan warik tunggal yang lebih besar dan lebih berkuasa (apalagi kalau jumlahnya lebih banyak), warik tunggaltadi akan simpun (tertib), duduk sopan dan manis. Namun, itu hanya sandiwara. Sebab, dalam situasi yang tidak menguntungkan itu dia akan mengambil sikapmuha basungkam, buntut mahambat[7].
            Secara persuasif, masyarakat Banjar di masa lalu sudah memberikan banyak nasihat (papadah, pitua) bagi orang yang mawarik tunggal. Di mata masyarakat, orang baik itu adalah orang yang badiri sadang, baduduk sadang[8],bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan  kondisi sekitarnya.
            Orang yang bisa beradaptasi, menghargai tradisi, budaya dan lingkungan tempatnya bermukim, bekerja atau bergaul, akan membuat orang lain senang. Orang akan menghormati dan menghargainya. Bahkan, dalam cara berbicara pun sudah ada aturannya: banganga dahulu, hanyar baucap[9]Boleh dikata, sistem budaya dan tradisi masyarakat Banjar memiliki hampir semua jawaban atas segala persoalan, berkenaan dengan perilaku etik dan normatif.
            Tapi bagaimana kalau warik tunggal itu tidak berubah, walaupun sudah diberi peran, jabatan, kedudukan penting dan terhormat dalam sebuah gawi sabumi (yang, untuk itu, bahkan orang yang lebih berkompeten pun dengan sukarela mempercayakan kepadanya)? Hal itu akan dinilai sebagai sudah dikilik, diandak ka bahu, handak ka kapala[10], dibari daging handak tulang[11].
            Bila upaya masyarakat mengoreksi perilaku anak, sanak saudara, keluarga atau warganya yang mawarik tunggal itu tidak membuahkan hasil, sudah tersedia jawaban lain (meskipun diungkapkan dengan nada fatalistik): halin haja, bamban kada babuah[12]Sudah takdir, tidak mungkin berubah. Dasar ajal[13].
            Bamban adalah sejenis tumbuhan yang berserat. Batangnya rata-rata sebesar jempol kaki, tinggi sekitar 2 meter dan tumbuh di rawa-rawa. Seratnya dapat dijadikan sebagai bahan untuk membuat bakul pencuci beras, bisa pula dimanfaatkan sebagai tali pengikat atap rumah (yang terbuat dari daun rumbia).  
            Memang, walau bagaimanapun bamban takkan pernah berbuah. Meskipun tidak berbuah, tapi ia berbunga putih. Karena tidak berbuah, ia tumbuh dan berkembang melalui akarnya. Oleh karena itu, di sekeliling batang bamban lazim tumbuh tunas-tunas bamban. Itulah cikal bakal bamban lainnya.
            Pada mulanya, ungkapan yang memakai bamban sebagai kiasan itu ditujukan bagi kehidupan seseorang yang tidak pernah berubah, secara sosial maupun ekonomi,  walau sekeras apa pun dia bekerja dan berusaha. Tapi ungkapan itu dapat pula dimaknai sebagai simbol perilaku individu yang kada masuk banyu,sudah kada kawa diapa-apai lagi[14].
            Dengan demikian, apa yang dapat dilakukan terhadap orang yang mawarik tunggal itu? Diam-diam, orang akan menjauhinya, enggan berakrab-akrab dengannya. Memang, dalam suatu acara, pertemuan atau silaturahmi, orang takkan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya kepada yang bersangkutan.
            Di hadapan si  warik tunggal, semua orang bersikap biasa saja, seolah sewajarnya, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Tapi orang sudah mencapnya sebagai buyang baciri[15], iya kandang, iya babi[16]Ungkapan itu sebuah indikator stigma dalam perilaku budaya, berkenaan dengan seseorang yang telah merusak kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan  orang lain kepadanya.
            Apakah cukup sampai di situ? Tidak. Sanksi moral dan sosial yang dijatuhkan masyarakat terhadap orang yang mawarik tunggal bisa amat berat: dibuang (atau diasingkan) dari lingkungan pergaulan sosialnya. Seorang anak akan dibuang orang tua dari keluarganya. Tidak lagi diakui sebagai keturunannya. Dan itu diungkapkan dengan baik mambuang hintalu sabuku daripada tambuk sakataraan[17]Nah! Pang parahu, siapa kana kada tahu...
             
*



[1]  terbata-bata
[2]  seperti monyet: (kalau) ditinggal, melempari; (kalau) diajak, mengolengkan sampan
[3]  sukar dihormati
[4]  bagai kerak nasi dikasih air
[5]  menggoyang tongkat, terkena kepala
[6]  lebih rendah daripada kencur, rendah hati
[7]  muka menunduk, ekor melecut
[8]  berdiri, cocok; duduk pun, cocok
[9]  menganga dulu, baru bicara
[10] sudah digendong, dinaikkan ke bahu, mau naik ke kepala
[11] diberi daging, mau tulang
[12] apa boleh buat, bamban memang tak berbuah
[13] sudah dari sono-nya
[14] sudah tak bisa diperbaiki lagi
[15] kartu bertanda, bertabiat buruk
[16] ya, pagarnya;  ya, babinya
[17] lebih baik membuang sebiji telur daripada membusuk semuanya